Friday, September 17, 2010

are you happy today?

Setiap hari sebelum jam sekolah berakhir, rutinitas gue dikelas bersama anak-anak murid adalah menghabiskan dua sampai tiga menit untuk ngobrol singkat. Isi obrolannya standar, sama seperti jaman kita sekolah dulu, yaitu petuah bijak guru kepada murid-muridnya. Besok jangan nakal ya. Jangan lupa kerjain PR. Jangan pipis dicelana, dst dst... tapi gue menyampaikannya dalam bahasa inggris sederhana. Translate sendiri. Petuah itu kadang menimbulkan kesan berbeda, tergantung intonasi dan nada dasar yang diambil. Do untuk suara malaikat dan Si untuk nada narik urat. Melotot atau senyum-senyum. tapi biasanya gue selalu mengakhiri dengan senyuman. Yang terakhir, gue selalu bertanya, "are you happy today?" dan mereka dengan antusias berlebihan dan vocabulary yang terbatas menjawab "YES!!" kemudian bocah-bocah itu lari tunggang langgang keluar kelas. Ibarat ayam lepas dari kandang. Awut-awutan.

Dan setiap hari juga gue memikirkan pertanyaan terakhir gue sambil melihat wajah-wajah imut itu. "are you happy today?".

Klo kita ketik di google dengan kata kunci 'happy' pasti muncul macem-macem. Mulai dari definisi, judul film kartun, judul buku, sampai lagunya Michael Jackson yang judulnya Happy ditahun 1973 dan berita Happy Salma mesra dengan pria bali.

Bukan itu yang gue maksud. Mengutip dari kamus, yang nemunya juga onlen, happy (adj) diartikan sbb: "enjoying or showing or marked by joy or pleasure, felicitous, glad, well expressed and to the point." Bahasa Indonesianya lebih singkat. Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (n) artinya, keadaan atau perasaan senang dan tenteram, dipakai untuk menerjemahkan kata eudaimonia. Banyak buku dan artikel yang membahas topik yang satu ini, 'are you happy?' seperti yang ditulis Stanley Bronstein dan bahasan mengenai buku-buku yang berkaitan dengan happiness seperti salah satu artikel disitus The New York Reviews of Books. Dan kalau dibahas lebih lanjut tentang penelitian yang sudah dilakukan tentang kebahagiaan itu sendiri (gue menambahkan imbuhan ke- dan akhiran -an dari kata benda menjadi kata kerja) pasti akan dikaitkan dengan hubungan dan interaksi sosial, status pernikahan, pekerjaan, kesehatan, kebebasan demokrasi, optimisme, keterlibatan religius, penghasilan, serta kedekatan dengan orang-orang bahagia lain. Beberapa peneliti juga mengembangkan alat test untuk mengukur, memberi label dengan angka dan skala, misalnya dengan The Oxford Happiness Questionnaire. Disitus-situs internet juga pasti banyak ditemukan test-test semacam ini, dari yang jayus sampai yang beneran.

Dikutip dari sebuah artikel di The New York Reviews of Books, "Chances are if someone were to ask you, right now, if you were happy, you’d say you were." Lebih jauh lagi, jawaban yang diberikan akan bersifat subjektif. Seperti yang dilakukan para peneliti yang memberi batasan skala estimasi, gue pernah bertanya pada seorang teman lama yang setelah bertahun-tahun baru ketemu lagi. Gue mau membuktikan teori ini dan guepun memberi batasan. Ceritanya dia udah kawin. Beranak tiga. Bergaji besar, buktinya gue ditraktir, mesennya nambah pula dan gue nggak berani ngintip berapa deret angka nol ditagihan makan. Henpon canggih, BB Onyx, waktu itu masih baru banget. setelah basa basi sebentar, gue tanya "are you happy today?" dia jawab, "of course." Gaya. Dua jam kemudian, kita ngobrol ngalor ngidul sampe curhat-curhatan, dia cerita problemnya apa, dsb dsb....gue tanya lagi, "so, are you happy today?" dia jawab, "hmmmm...tergantung." Yak, labil.

Pertanyaan "are you happy?" emang bersifat universal. Malah ada yang bilang "..there was a concept that sounds 'fuzzy'..". Gue pernah punya seorang murid. Anak ini sudah berumur 4 tahun dan sudah bisa bicara jelas. Tiap hari kalo gue tanya pertanyaan itu, "are you happy today?" jawabannya beda-beda. Kadang yes kadang no. Bukan karena dia labil tapi karena dia yakin dan jujur. Dia nggak suka gue marahin makanya dia bilang no. Dia seneng karena boleh bawa mobil-mobilan kekelas makanya dia bilang yes. Polos. Simple. Konsepnya jelas.

Kembali teringat sama anak-anak murid gue yang setiap hari menjawab "Yes!" dengan lantang, gue berpikir. Apakah jawaban itu sudah terekam dalam otak mereka, seperti jawaban yang dihafalkan layaknya belajar ilmu pasti, 1+1=2 atau hanya sekedar 'virtue ethic' yang berbasis moral sebagai dasar cara berpikir etis atau malah cuma copas dari temennya atau memang jujur?

Saking hebohnya pertanyaan ini, maka gue memutuskan jawaban yang pas buat pertanyaan ini ketika kita mengerti dulu artinya. Karena ketika kita mengerti, kita bisa puas menjawab. Apapun alasan dan motifnya, itu urusan belakangan. What happen today is today's bussiness. If you mix-up with yesterday's problem, it can be very confusing. But the beauty of it, is that you can sum-up the answer only with one acclamation word. Yes or No.  If you are happy today, say it. If you're not happy today, say it. No harm done.

Kezia Mamoto


http://www.nybooks.com/articles/archives/2008/apr/03/are-you-happy/
http://en.wikipedia.org/wiki/Happiness
http://bahasa.cs.ui.ac.id/kbbi/kbbi.php?keyword=bahagia&varbidang=all&vardialek=all&varragam=all&varkelas=all&submit=tabel

0 comments:

Post a Comment