Wednesday, September 15, 2010

Kematian Sekuntum Bunga


Untuk cinta yang bertumbuh dan kemudian mati.
Terkadang aku berpikir bahwa cinta tak ubahnya sekuntum bunga. cinta dapat bertumbuh dan cinta dapat merekah. ketika bunga itu masih berupa benih, ia memerlukan air, pupuk, tanah dan sinar matahari untuk dapat bertumbuh. katakan saja air, pupuk, tanah dan sinar matahari adalah kepercayaan, saling menghargai, saling menerima apa adanya dan pengorbanan yang disertai pengertian. ketika ia bertumbuh ia memerlukan perjuangan untuk tetap hidup ketika yang menanam lalai memperhatikan salah satu dari instrumen tersebut. entah ia lalai menyiram, lalai memberi pupuk atau terlalu lama menjemur dibawah sinar matahari. ia tidak akan langsung mati ketika kelalaian itu muncul, ia akan layu terlebih dahulu, ia akan sakit terlebih dahulu. hanya perlu kesadaran untuk membuat bunga itu tumbuh segar kembali.
Sebuah benih tidak begitu saja menjelma menjadi bunga. pada awalnya ia akan berakar. akar yang baru keluar dari benih harus terikat bersama tanah, ia berjuang untuk itu, menembus lapisan tanah untuk dapat menyatu, yang tentu saja tidak mudah bagi akar yang masih muda. hanya akar yang kokoh yang memungkinkan batang bertumbuh sempurna, tanpa akar batang bukanlah apa-apa dan bunga tak mungkin ada.
Setelah akar melakukan bagiannya, dari permukaan tanah muncul daun-daun kecil. pada saat itulah diperlukan perawatan khusus, pada awal pertumbuhan. daun-daun kecil menjelma menjadi batang. batang menentukan kemana ia akan tumbuh. terkadang ia merunduk, menjauhi matahari, instrumen yang sebenarnya ia perlukan untuk tetap hidup. terkadang ia berbelok, meliuk-liuk namun terkadang ia tetap lurus. jika yang merunduk dan berbelok dibiarkan, ia tidak akan pernah lurus padahal seharusnya ia lurus dan tidak menjauhi matahari. ia perlu disanggah untuk tetap tegak. saat batang berdaun sudah menyelesaikan tugasnya untuk tetap kokoh maka muncullah kelopak bunga dari sela-sela daun dan ranting. kuncup itu perlahan akan membuka kelopaknya satu persatu dan memperlihatkan warna mahkota bunga. kuncup bunga membuka mahkotanya satu persatu, ia mekar.
Sayangnya bunga tidak selamanya mekar. ketika bunga itu mekar, abadikanlah detik-detik dimana ia merekah, dimana ia indah dan sempurna karna hanya pada saat itulah keindahannya bisa dinikmati. kepuasan dapat dirasakan. dan ketika satu persatu mahkotanya gugur, bunga itu akan mati.
Pecinta yang mencinta dan dicinta memelihara cinta itu sampai cinta itu mati.
Hanya pecinta sejati yang tidak membiarkan bunga itu mati begitu saja ketika mahkotanya gugur. karna ketika bunga itu gugur kemudian mati bukanlah akhir dari segalanya. ia dapat tumbuh kembali. dari benih yang sama akan melahirkan bunga yang bahkan lebih indah lagi.
                                                                                      Putri

Surat ini kutujukan padamu ketika aku teringat akan datangnya hari ini. Mungkin aku tidak akan pernah menyerahkan surat ini padamu sampai aku mati. Sampai aku bernasib sama dengan bunga itu. Tidak, aku sudah bernasib sama dengan bunga itu.
Keluargamu menelponku untuk memberitahu datangnya hari ini. Aku bernada gembira mendengarnya. Ibumu lebih gembira ketika menyampaikannya dan menjadi jauh lebih gembira ketika tahu aku gembira mendengarnya. Memang sudah seharusnya aku gembira dan memang itulah yang diharapkan semua orang. Bukankah begitu, Bima?
Sampai seminggu yang lalu aku tidak pernah tahu siapakah wanita yang beruntung itu, wanita yang kau pilih untuk mengantikan aku. Wanita yang sudah mengisi hari-harimu sejak kau pergi. Kau memang harus pergi, hanya saja aku yang tidak pernah menyadari bagaimana cara melepasmu.
Suatu hari kau mengatakan, “Aku mau naik kapal, aku mau berlayar. Tahun depan aku pulang. Nanti kalau aku pulang, kamu mau kemana aja aku temani. Mau oleh-oleh apa?”. Aku tidak mau oleh-oleh, aku mau kau tinggal. Aku ingin menjawab begitu waktu itu tapi yang keluar dari bibirku hanya “Aku mau anjing laut dari Thailand. Kamu harus bisa bawain pulang binatang itu !”. Kau tertawa dan mengusap-usap kepalaku seperti yang biasa kau lakukan.
Suatu hari lainnya kau mengantar aku pulang kerumah dengan berbasah kuyup. Kita baru saja nonton di bioskop kota hanya untuk melepas stress dari tempat kerjamu sedangkan aku ikut pergi demi keperluanku observasi perfilman yang sedang in di kota untuk naskah yang harus kuserahkan pada pimpinanku dikantor awal minggu depan. Setelah nonton kau mengajakku makan direstoran, kau tahu tempat makan dan makanan favoritku.
“Put, udah lama ya kita nggak jalan berdua. Aku di bandung dan kamu di jogya. Lama di bandung bikin aku kangen sama kamu. Udah seminggu aku pulang dan sejak aku pulang aku belum pernah denger kabar terbaru dari kamu. Katanya sekarang kamu udah punya cowok ya.”
“Nggak tuh. Aku masih begini-begini aja. Kamu kali yang udah punya cewek tapi nggak cerita-cerita sama aku.”
“He he he. Nanti kapan-kapan aku kenalin kalo kamu main ke bandung.”
Aku tidak tahu bagaimana membagi dirimu dengannya. 10 tahun kau hanya milikku dan tidak pernah terbagi. Mendengarmu menyebut namanya dan menyadari kau bersamanya saat tidak bersamaku membuatku tidak ingin lagi bertemu denganmu. Didepan rumahku, hujan masih lebat. Seharusnya kau berteduh didalam rumahku dan menghangatkan diri.
“Bi, kamu jangan ketemu aku dulu deh. Aku lagi nggak mau ketemu kamu.” Kau mempertanyakan sikapku yang kekanak-kanakan. Bukankah cinta terkadang egois dan kekanak-kanakan? Pikirku. Aku terkejut dengan pikiranku sendiri. Aku menyebut cinta padamu dalam hatiku untuk pertama kalinya. Kau yang sabar dan perhatian. Kau yang lembut dan penyayang. Bagaimana aku bisa begitu saja menghilang dari hadapanmu? Aku memutuskan memelihara rasa itu karna kupikir suatu hari nanti aku dapat mengatakannya kepadamu.
“Putri, kamu sedang apa, ‘ndok? Cepat ganti bajunya. Kita sudah harus berangkat. Kamu kan dandannya lama”.
Ibu memanggilku. Bima, aku harus pergi. Mungkin aku sudah benar-benar siap pergi kali ini. Aku mungkin bukan pecinta sejati karna membiarkan bunga itu gugur dan mati. Tapi aku tidak punya instrumen untuk membuatnya tetap hidup. Mungkin juga aku yang sudah gugur lebih dahulu daripada bunga itu.
Hari ini aku berdiri disini menyaksikan kau mengikat janji sehidup semati dengannya. Banyak orang yang datang memberi selamat padamu, begitu juga yang seharusnya aku lakukan. Banyak orang yang datang turut berbahagia bersamamu, begitu juga yang seharusnya aku lakukan.
Ditengah-tengah acara yang membahagiakan semua orang kau menyempatkan diri menghampiriku. Aku melihatmu dari kejauhan datang perlahan-lahan mendekat, terus mendekat. Ragamu ada disampingku namun kamu yang sesungguhnya sudah melayang pergi.
"Makasih ya kamu sempet dateng kesini. Habis pulang honeymoon, nanti aku telpon kamu."
"Ya..ya..ya... terserah deh."
Aku melihat sosok yang berdiri tidak jauh dariku. dijarinya terpasang cincin yang sama dengan cincin yang kau kenakan. wanita itu tersenyum, larut dalam kebahagiaan hari pernikahannya.
"Sana gih, jangan lama-lama ninggalin istri."
Kamu merangkul pundakku dan mengecup pipiku, seperti yang biasa kau lakukan. Seperti yang biasa kau maksudkan. "Take care ya, Put."
Dan kata-kata itu tetap berdiam didalam mulutku , kutelan dan takkan pernah kumuntahkan sementara kamu hanya berlalu, perlahan lenyap.

Kezia Mamoto

dihatimu

beberapa kalimat dibawah akan tertuju langsung kehatimu.
bersiaplah!
aku nggak tanggung jawab soal apa yang akan terjadi pada hatimu.

Kezia Mamoto 

 
Ce : emang kamu lagi dimana sih?
Co : dihatimu.

...*guubraakk..Drop!
 

 

Panji Adakadabraa Tambahin ah :


Ce : emang km lg dmn sih ?
Co : lagi mau berenang trus abis itu jogging..
Ce: hah..serius..!
Co: lho..iya serius..emang knp..
Ce : gak cape apa km..
Co : ggak donk..
Ce : emang km mau berenang nd jogging dmn..?
Co : di hati kamu..

*glekk..
Tetepp..
Hhahaa..


Kezia Mamoto Lanjutin...

Co : duuh, aku cape banget deh, pengen istirahat dulu.
Ce : mau istirahat dimana?
Co : dihatimu.
...
*ooohohohohohoho...


Panji Adakadabraa 
Co : hal apa yg paling km suka..
Ce : dimanja km..kalo km..
Co : ak paling suka bgt kalo kena macett..
Ce : hah..! Ko gitu.. Km aneh d..
Co : kan kena macetnya di hati kamuu..
...
Hahaaiii..


Kezia Mamoto 
Co : sorry banget, aku nggak bisa telpon lama2 ya. Aku harus pergi nih...
Ce : yaahh..kok gitu sih.. Kamu mau kemana?
Co : kehatimu.

*makin drop!!

 Panji Adakadabraa
Co : maaf yh ak mendadak kasih kabar ke km..
Ce : kabar apa..kasih tau gak..
Co : pokoknya ak minta maaf sama kamu, besok pagi ak take off jam 5..
Ce : hah..knapa baru bilang..nyebelin bgt c km..!!!
Co : memang harus dadakan, dan ak harus beran...gkat..tenang aj ak gak pergi jauh ko..
Ce : emangnya km mau pergi kmana..berapa lama..dan sama syp..
Co : Mm..ak pergi ke hati kamu..selamanya dan perginya bareng hati ak...

*ting
Hahahaha


Kezia Mamoto
Co : say, kayaknya kemaren ada yang ketinggalan dirumah kamu..
Ce : hah? Kayaknya nggak ada..
Co : ada..soalnya aku pulang nggak bawa itu..
Ce : apaan yg ketinggalan..??
Co : hatiku. Kalo ketemu, tolong disimpen yah..
...
*mulai ngacooooo...


Kezia Mamoto

Tuesday, September 14, 2010

Janji Anak Bawah

TKP Penataran Hari Pertama

Kali ini gue mau meminjam kisah seseorang yang gue temui pada jaman gue SMA. Waktu itu gue kelas 2 SMA dan dia kelas 1, dia anak baru masuk dan gue kakak kelas yang jaga penataran. Masa-masa 3 hari penataran adalah hari-hari dimana gue bisa kabur dari kelas. which was so great!! setelah gue mendapat tempat duduk paling nyaman dikelas, abis itu gue ngilang selama 3 hari.

Tapi buat dia lain ceritanya. Hari pertama penataran itulah gue pertama ketemu dia. Waktu itu dia baris paling depan dan gue yang mimpin barisannya untuk acara baris berbaris. Gue nggak terlalu memperhatikan wajah-wajah mereka, karena buat gue semua wajah sama. Anak bawah. Dan gue terlalu girang karena nggak ada dikelas bersama temen-temen gue yang lagi dicecar secara verbal sama wali kelas.  Anyway, barisan anak bawah yang gue pimpin itu sedikit kacau dan salah satu yang bikin acak-acakan adalah dia. Kita sebut aja SR. si SR ini cengar cengir terus. Setiap kali gue kasih komando pasti dia nyolot.
Gue : lencang kanan, graak!
SR : kanan yang mana ya, kak?
Gue : liat temennya donk!
SR : kan saya yang paling depan. Saya liat siapa??
Gue : …..(nahan napas!)

Ke-nyolotan SR nggak berhenti sampe disitu. Selama penataran dia membabi buta. Bukan dia berubah jadi babi yang buta, tapi dia emang bener rese kaya babi. Ada acara minta tanda tangan kakak kelas, dia malah minta nomer telpon. Ada acara kirim surat cinta, dia udah bertindak lebih jauh, ngajak pacaran. Sangat songong untuk ukuran anak baru. Gue pikir dia akan berhenti setelah penataran selesai karena biasanya setelah penataran, anak-anak baru akan berbaur dan mulai menikmati kehidupan di SMA.  Tapi ternyata gue salah duga.

SR emang beneran serius ngajak gue pacaran. Gue sendiri waktu itu adalah seorang kakak kelas ber-ego tinggi. Buat gue jalan sama anak kelas 1 itu membuat kacau alam pikiran gue. Biarpun dia pake baju putih abu-abu yang masih bau toko, dikepala gue dia masih pake baju putih biru, celana pendek pula. Cupu. Jadi waktu, untuk yang kesekian kalinya, dia nembak pada akhirnya tetep gue tolak juga.  Dan dia nggak pernah tahu alasannya. Mungkin karena dia nggak tahu alasannya itu makanya dia nggak nyerah. Setelah beberapa bulan kemudian, dengan berbekal sebuah kartu natal yang dia kirim dan baju putih abu-abunya yang udah mulai belel, maka luntur juga ego gue. Akhirnya gue jadian sama dia. Kalo nggak salah itu juga lewat temennya.

Nggak banyak cerita waktu gue pacaran sama SR, karena pengejaran yang lumayan panjang buat ukuran anak SMA itu cuma berbuntut dua minggu. Ya, dua minggu aja gue pacaran sama dia. Kegiatan yang paling intim cuma sekali pulang bareng naik angkot M06. Udah, itu doank. Dan dengan sepucuk surat yang gue kirim, lagi-lagi lewat temennya, gue putus sama dia. Setelah itu gue kembali menjalani kehidupan SMA gue yang masih tersisa, begitu juga dengan dia. Sampe lulus, gue dan dia nggak pernah balikan lagi. Gue lulus begitu aja dan gue nggak pernah ketemu dia lagi.

Beberapa tahun kemudian muncul social sites yang namanya Facebook. Jaringan pertemanan didunia maya itu kembali menghubungkan gue sama SR. kadang gue suka chatting sama dia dan beberapa kali sempet dia melontarkan ajakan ketemuan. Tapi ketemuan itu baru terjadi setelah hampir tiga tahun berikutnya.

Malem itu malem minggu, gue bagai kura-kura dalam tempurung. Bukan dalam arti sebuah pepatah, tapi dalam arti yang sebener-benernya. Sumpek. Kira-kira jam 5 sore, chat room gue bunyi. SR yang nge-buzz. Setelah intro yang mulus akhirnya jadilah dia berjanji mau dateng kerumah gue. Dengan panduan ala navigator dari gue, dia bisa sampe dengan selamat, nggak nyasar, cuma nyangkut dipos satpam karena binggung mau jawab apa waktu diintrogasi sama satpam komplek gue.

SR nggak banyak berubah dari yang terakhir gue inget. Tetep songong. Dan setelah proses perundingan singkat untuk memutuskan tujuan kita, yang gue maksud perundingan lebih kepada gue yang maksa, akhirnya kita pergi makan. Direstoran gue dan SR banyak ngobrol. SR cerita tentang kerjaannya, gue cerita tentang kerjaan gue. SR cerita tentang pacarnya, begitu juga sebaliknya. Obrolan masa sekarang kemudian bergeser menjadi obrolan masa lalu. Gue dan SR kembali bercerita tentang masa-masa penataran dan masa-masa dua minggu waktu kita pacaran.

Ada satu cerita SR yang nyangkut dipikiran gue. Ini cerita bertahun-tahun setelah lama kita putus. Dia bilang begini,
“waktu itu gue pernah telpon ke radio. Ada acara yang lagi ngebahas cerita jaman pacaran yang paling berkesan waktu SMA. Disitu gue certain elu.”
“masa sih?” belaga dongo.
“kan penyiarnya nanya, pengalaman paling berkesan waktu SMA. Ya gue jawab, paling berkesan pas ngejar elu. Gue bilang, ‘emang jadiannya cuma dua minggu, itu juga gue nggak tau dianggap apa nggak tapi itu satu-satunya pengalaman gue pacaran waktu SMA, abis itu dia ngilang gitu aja.’  Emang lu kakak kelas paling songong, chie. Pengalaman berkesan yang paling pait buat gue.”
“kenapa juga dulu lu ngejar gue?”
“nah, itu juga ditanya tuh. Gini, dulu waktu baru masuk, hari pertama sekolah, gue bilang gini sama temen gue si J, ‘lo liat cewek pertama yang keluar dari pintu itu, pasti bakal gue kejar terus.’ Eh ternyata elu yang pertama keluar dari pintu.”

Gue pulang dengan satu pernyataan yang nggak hilang dari kepala gue. manusia membuat sebuah janji yang manis dan ia mengejar cara memenuhi janjinya demi merasakan manisnya janji yang terwujud. kadang seseorang nggak bisa melupakan apa yang pernah ia janjikan, karena untuk menelan janji itu seperti menelan empedu. tapi kalaupun janji itu harus ditelan kembali, kepahitannya akan terasa sampai ketulang.

One must have a good memory to be able to keep the promises that one makes.  -Friedrich Nietzsche
but
Better a broken promise than none at all. - Mark Twain



Kezia Mamoto
ps. SR dan pacarnya diberitakan sampai hari ini masih baik-baik aja. hanya untuk klarifikasi, temans...

Say It With a Song

Gue suka meng-create playlist. Dikomputer gue punya banyak playlist, dihenpone juga banyak. Semua gue bikin berdasarkan genre music dan mood, karena makin gede mood swing gue makin akut.  Dan semua playlist itu gue puter bergantian seiring berubahnya mood gue sama lagu-lagu tersebut. Music rock gabung sama music rock dan gue puter kalo gue lagi merasa metal, music r&b gue gabung sama music r&b dan gue puter kalo gue merasa gaul, dan music jazz gue gabung sama music jazz dan gue puter kalo gue merasa keren dan classy. Gue pernah menggabungkan beberapa genre music, seperti rock dan jazz, akibatnya mood swing gue labil. Dari loncat-loncat, tiba-tiba gue duduk melantai, ya, menulis-nulis diatas lantai dengan jari-jari gue. Gak bagus.

Gue pernah create playlist beberapa lagu yang lagi gue suka. Playlist itu gue kasih nama “Pengantar Bunuh Diri #Vol.1”. isinya lagu-lagu bernada loncat dari lantai 13. Ini lagu-lagunya:
Mantan Terindah – Kahitna
One Last Cry – Brian McKnight
Tersiksa lagi – Wilson Idol
Cinta Sudah Lewat  - Kahitna
Over You – Daughtry (yang ini agak nggak nyambung sama yang lain, tapi liriknya, man… beuuhh!!)
Separated – Usher
Dan lain-lain. nah kan, dari judulnya aja udah ketebak, sebelum album selesai diputar, pendengarnya udah nyampe kealam lain, makanya vol.2 nggak dirilis. Dan setelah gue create playlist ini, bener aja. Kakak gue bawaannya matanya bengep. Jangan bayangin dia melakukan kriminalitas kemudian digebukin orang sampe bengep, bukan itu. dia nangis jagung akibat lagu-lagu ini. dan pelampiasannya, isi twitternya mellow2 semua, mengundang simpati khalayak ramai. Gue juga pernah posting album ini di salah satu social site, dan orang-orang commentnya bernada nggak jelas. Mereka kira gue udah siap memutus urat nadi gue. Bahaya!

Seperti halnya kakak gue, dia merasa mellow bukan karena suara merdunya Wilson Idol tapi karena dia denger lirik lagu yang dinyanyikan. Semua lagu yang ada diplaylist itu punya cerita yang sama. Patah hati. Semua lagu mengingatkan gue dan dia sama seseorang, orang yang berbeda tentunya. Dan diujung lagu-lagu itu gue dan dia kompak bilang, “ni lagu buat dia banget!!! Anj….ttt!!” dan gue pun turut berurai air mata sambil, akhirnya, ikutan nyanyi juga. Norak.

Gue inget dulu jamannya radio Prambors (atau Mustang ya?!) ada acara kirim-kiriman lagu. Gue suka banget dengerin acara itu. kebanyakan lagu-lagu yang dikirim bernada cinta dan ditujukan buat pacarnya. Kadang yang nggak masuk akal, ada orang yang kirim lagu buat pacarnya yang ada diluar pulau jawa yang gelombang radionya aja udah beda. Ya, itulah kekuatan romansa, jangankan laut, pulaupun akan kusebrangi demi cintaku padamu. Halaahh..  tujuan pengiriman lagu-lagu itu macem-macem. Ada yang bilang “I lop yu”, ada yang bilang “maafin aku, sayang”, ada juga yang cuma pesen “jadi inget yang semalem…” yang akhirnya bikin pendengar bertanya-tanya “ada apa semalem??” dan mulai berkhayal yang nggak-nggak.

Gue sendiri pernah punya pengalaman sama sebuah lagu. Waktu itu tahun 2001, gue deket sama seorang cowok. Hampir setahun kita jalan tapi nggak pernah jadian. Ada satu dan lain hal yang membatasi hubungan gue sama dia, kita nggak pernah bisa lebih dari sekedar ‘deket’.  “You and I would never be Us.”
Dulu kita suka telpon-telponan dan sms-sms an malem-malem.  Kalo dia lagi diluar, dia suka sempet-sempetin mampir ketelpon umum cuma buat ngobrol sebentar (gue kagum sama daerah rumahnya yang punya banyak telpon umum koin yang belum dijarah preman) dan gue sendiri suka ngambil posisi pw (posisi wuenaak) dengan nongkrong dijendela kamar kakak gue. Jadi kita suka membahas pemandangan langit pada malam-malam itu. gue masih inget dengan jelas sedikit percakapan gue sama dia waktu itu.
Gue : inget nggak yang dibilang kak CK?
Dia : apa?
Gue : bintang selamanya cuma indah untuk dipandangi, tapi kita nggak pernah bisa ngambil bintang itu untuk ditaro dikamar. Dia tempatnya dilangit.
Dia : kayak gue sama lo, kan.
Dan sejak itu lagunya Padi yang judulnya “Kasih Tak Sampai” pun jadi theme song gue sama dia. 

Setiap lagu punya cerita. Setiap lagu punya maksud menyampaikan sesuatu. Kadang kita memenggal lirik sebuah lagu yang sangat representative dengan perasaan kita saat itu. sampai kita berpikir seandainya setiap perasaan dikehidupan nyata begitu mudah diucapkan semudah kita menyanyikan sebuah lagu. Kadang ada perasaan tertentu yang nggak bisa diucapkan dengan gamblang hanya dengan sepatah kata. Kadang kita memerlukan suara orang lain untuk menyampaikan isi hati yang tidak terkatakan.

“Every song has a memory, every song has the ability to make or break your heart. I wish people pay more attention to the song I like, coz the lyrics are the words I’m too scared to say.”

Kezia Mamoto

this boy, this love, this beauty

Aku bertemu Marlon waktu anak ini berumur 3 tahun, dibulan Agustus tahun 2008. Pagi itu hari pertamaku teaching trial di sekolah CD. Aku melihat anak-anak yang berlari-larian dimana-mana, saking banyaknya aku sampai agak pusing. Aku berdiri didepan pintu kelas waktu nannynya Marlon menyapaku, “eh ada miss baru.” Si mbak berambut keriting itu menyapaku sambil menyuapi si anak, ditangannya ia memegang kotak makanan yang masih penuh. “Marlon, sek hen sama miss baru sana.” Kata si mbak kemudian. Dia mengatakan shake hand dengan bahasa mbak-mbak logat jawa. Aku menyapa anak yang berdiri didepanku itu. sejenak ia hanya melongo, mulutnya tertutup rapat. Anak keturunan cina ini kulitnya putih sekali, matanya sipit dan rambutnya yang lebat setengah berdiri bagai ekor landak. Belakangan aku baru tau dia baru saja potong rambut kemarin. “miss, coba tanya namanya siapa.” Kata si mbak kepadaku. “biar makanannya dikunyah, kan dia jadi bisa jawab. Hehehehe.” Jelas si mbak kemudian. Aku menuruti perintah si mbak. Kelihatan si mbak sudah tidak sabar supaya si anak cepat-cepat mengunyah makanannya. Aku bertanya, “hi, what’s your name?” sambil mengulurkan tangan. Si anak menjawab dengan mulut penuh makanan, “Marlon.” Ia mengulurkan tangan padaku. Itu pertama kali aku menjabat tangan Marlon Lee.
Marlon tidak berada dikelas tempatku mengajar. Ia masuk kelas Kindergarten 1, sedangkan aku mengajar dikelas Toddler dan Nursery 1. Sebanyak apapun kegiatan yang kami lakukan bersama, aku tidak pernah benar-benar dekat dengan Marlon. Ia jenis anak yang hanya menurut pada orang-orang tertentu. Di sekolah Marlon hanya menurut pada guru kelasnya, Ms. Vero. Apapun yang Ms. Vero bilang, pasti ia dengarkan dan lakukan. Seringkali ia terpaksa menurut sambil marah-marah, tapi tetap ia kerjakan apa yang Ms. Vero perintahkan. Pada guru-guru yang lain, Marlon tidak terlalu perduli. Ia lebih sering tidak menyahut jika dipanggil, kadang-kadang ia hanya menoleh sebentar kemudian kembali ke permainannya. Cuek. Termasuk aku, ia juga tidak menyahut kalau aku memanggilnya. Tapi begitu ia mendengar suara Ms.Vero, seperti ada reflex tersendiri dikepalanya hingga ia bisa langsung datang atau menyahut. Jadi kalau terjadi kekacauan dikelas yang melibatkan Marlon, kami tahu siapa yang harus menangani anak ini. pernah sekali waktu maminya bilang, “aku juga nggak tau, miss. Marlon tu anaknya susah, miss. Tapi kok bisa ya? Kenapa ya? Nggak tau nih”. Mami Marlon juga bingung, tapi bingung yang menyenangkan karena akhirnya ada orang lain yang didengar oleh anaknya.
Ms. Vero sering cerita pada kami. “Marlon itu pertama kali gue pegang belum bisa apa-apa, ms. Pegang pensil aja belum bener, grip nya salah. Disuruh coloring nggak mau, pasti dibuang crayonnya. Apalagi pegang gunting. Yang ada setiap kali gue suruh gunting sesuatu dia pasti bilang gini, “miss, u hold the paper and I cut, ok.” Nggak mau dia pegang kertas sama gunting sendiri. Ampun deh. Kata miss nya yang dulu, sebelum gue masuk, Marlon tuh susah banget diatur, nggak ada yang didenger sama dia, sampe miss-miss nya cape. Waktu gue coba deketin, ternyata dia nurut. Dia emang gitu anaknya, harus tawar-menawar dulu, nggak bisa kita seenak-enaknya perintah dia, karna dia pikirannya kritis, miss. Setiap gue suruh sesuatu dia pasti tanya, “why?” ya mau nggak mau harus dijelasin dulu. Nanti dia nurut sendiri. Tapi gue juga harus tegas sama dia, kalo nggak boleh ya nggak boleh, dia ngerti kok.” Kami yang mendengarkan penjelasan panjang lebar itu hanya bisa berkomentar “oooohh” panjang dan angguk-angguk kepala. Karena kenyataannya Marlon hanya menurut pada Ms.Vero. Sampai lebih dari setengah tahun aku mengajar di CD belum juga ada tanda-tanda kedekatan Marlon pada guru-guru yang lain, termasuk denganku.
Marlon anak yang aktif. Begitu ia memasuki ruangan, seketika itu juga ruangan menjadi hidup. Begitu ia tidak ada, sangat terasa sepinya. Biasanya dia datang membuka pintu, melihat sekeliling sebentar kemudian ia mengambil ancang-ancang untuk berlari. Ia suka main mobil-mobilan besar little tikes yang dijalankan oleh kaki. Hanya satu mobil yang selalu ia kendarai, mobil polisi warna biru. Ia tidak pernah main sepeda atau motor-motoran. Koordinasi gerak badan anak ini belum sempurna. Ia belum bisa mengayuh pedal sepeda roda tiga dengan benar. Kalau berlari, ia belum bisa menyempurnakan arah. Waktu ia baru masuk umur 4 tahun, ia sering menabrak sesuatu waktu lari-larian. Permainan Start dan Stop belum bisa dilakukan dengan baik. Ia juga kesulitan berdiri mengangkat satu kaki, apalagi balok keseimbangan. Ia tidak keberatan dengan ketidak mampuannya itu. setiap kegiatan exercise, lomba balap sepeda, merintangi balok, ia sering kalah. Ia marah-marah, jelas, tapi ia juga tidak keberatan jika temannya melakukan hal yang lebih baik darinya. Hanya satu komentarnya jika ia kalah dalam permainan, “why can’t I be the winner too? It’s no fair!”, yang dikatakannya sambil merengut. Entah bagaimana, semua ketidak sempurnaan gerak itu mampu membuat ruangan menjadi lebih cerah.
Suatu hari aku berangkat ke sekolah dengan wajah sembab. Mataku bengkak karena menangis semalaman. Air mata akibat pertengkaran dengan suami yang terbawa sampai tidur ternyata berbekas pada pagi hari. Sepanjang perjalanan aku tidak konsentrasi menyetir, isi kepalaku berantakan. Aku sebenarnya tidak semangat tapi aku tidak bisa begitu saja meninggalkan pekerjaan. Hari ini akan banyak anak-anak yang masuk dan bukan alasan untuk bolos hanya karena urusan rumah tangga. Sepanjang jalan aku hanya mendengarkan lagu-lagu dan terus berusaha mengendalikan setir mobil walaupun alam pikiranku berkelana jauh.
Aku memasuki gedung sekolah dengan biasa-biasa saja. Aktifitas pagi itu berjalan seperti mengambang dibenakku. Anak-anak datang satu persatu, aku mengawasi mereka bermain sampai jam sekolah dimulai. Morning meeting dan morning exercise yang dijalankan dengan wajar seperti biasa, kemudian kami masuk ke kelas masing-masing. Aku memutuskan untuk berkonsentrasi pada anak-anak dikelasku yang hari ini luar biasa banyaknya, dan itu ternyata belum cukup mampu menghilangkan kekalutan pikiranku. Sampai jam makan Snack anak-anak dimulai, keajaiban itu datang.
Kami duduk dikursi-kursi kecil sambil mengawasi anak-anak makan. Anak-anak yang sedang asik mengaduk-aduk sup sayuran berjajar didepan kami. Aku sendiri tidak terlalu memperhatikan karena sebentar saja pikiranku kembali melayang kerumah, sampai aku dikejutkan oleh suara Ms.Vero.
“Miss Kezia !” panggilnya. Aku menoleh. Ms. Vero sedang berjongkok disamping kursi Marlon. Anak itu sedang menunduk sambil mengaduk-aduk makanannya, Ms. Vero melihatku dengan tampang sumringah setengah tertawa. “Marlon says he loves you, Miss Kezia. He wants to come to your house.”
Aku mendadak melongo. Hah? Apa tadi yang dibilang? Setengah tidak percaya tapi kemudian tawa keras pecah diruangan. Guru-guru yang lain mendengar dan tertawa, termasuk Ms.Vero, sementara aku masih bengong. Dan Marlon sendiri terlihat membisikkan sesuatu pada Ms. Vero. Aku tidak mendengar tapi kemudian Ms.Vero menjawab, “of course she has cars, like yours. U can play cars with Noah in Miss Kezia’s house. Ha have a lot of cars too, Marlon.” Anak itu kembali menunduk, sekilas kulihat mukanya merah.
Ms. Vero mengambil kursi dan duduk disebelahku, ia berkata, “Miss, Marlon suka tanya-tanya sama maminya, “mami, how to spell miss Kezia’s name?. mami, I want to go to miss Kezia’s house.” Maminya sampe pusing. Dia cerita-cerita gitu sama gue, bow. Marlon suka sama lo, bow. Ha ha ha. Kocak ya. Ya ampun.”. Aku dan teman-temanku menyimak cerita Ms.Vero dengan rasa heran yang amat sangat. Tidak percaya rasanya anak sekecil itu sudah merasakan bagaimana rasa kagum pada orang lain. dan yang lebih tidak percaya lagi karena objeknya adalah aku. “dia kan nggak pernah deket sama lo, bow. Kok bisa ya? Ya ampun, Marlon. Ck ck ck.” Kata Ms Iin. Aku dan teman-temanku tahu kalau Marlon tidak pernah dekat denganku seperti kedekatannya dengan Ms.Vero selama ini, makanya mereka semua yang mendengar cerita ini keheranan.
Cerita ini mungkin hanya jadi perbincangan lucu waktu makan snack pagi itu dan seakan berlalu begitu saja tapi tidak ketika diwaktu-waktu berikutnya cerita lucu itu menjadi sesuatu yang lebih nyata.
Bagiku tidak ada moment yang lebih indah dalam 24 jam yang lalu selain moment itu. Menyaksikan wajah Marlon yang memerah, melihatnya menundukkan kepala dan mendengar kalimat “Marlon says he loves you, Miss Kezia. He wants to come to your house.”, mendadak luka dihatiku sembuh. Air mata semalam bagai tidak pernah ada, terlupakan begitu saja. Kesedihan menguap seketika. Seketika itu juga, moment yang hanya berlangsung beberapa menit itu membuang isi kepalaku yang berantakan dan menggantinya dengan rasa senang yang meluap-luap. Mungkin kedengaran sepele tapi itu makin terasa dijam-jam berikutnya.
Sepanjang hari Marlon terus-terusan berlarian mondar-mandir didepanku. Dia main lari-larian , pura-pura jatuh, pura-pura pingsan dan pura-pura kecapean didepanku. “cari-cari perhatian sama lo tu.” Kata Ms Iin yang juga ikut mengawasi anak-anak bersamaku. Ia terus-terusan menawariku, “miss, what do you want to eat?” dan ia akan menyodoriku berbagai mainan makanan yang ada diruang bermain sampai didepanku penuh dengan piring-piring berisi makanan, waktu ia merasa tidak ada lagi yang bisa ditawari, ia kemudian mengisi piring-piring dengan mainan-mainan karet binatang. “you have to eat that too, miss.” Katanya sambil tertawa-tawa.
Usaha mencari perhatian tidak berhenti sampai disitu. Sepanjang hari itu ia terus berusaha menarik-narik tanganku, tidur-tiduran dipangkuanku karena pura-pura capek, bersandar dibadanku dan sebagainya. Sekali waktu terjadi hal yang menggelikan. Kami sedang menghabiskan dua puluh menit terakhir bermain bersama. Aku sedang bermain bersama anak yang lain, tiba-tiba Marlon berdiri dibelakangku dan mengambil tangan kananku. Digenggamnya tanganku sambil diusap-usapkan ibu jarinya pada jari-jariku. Ia hanya berdiri disitu dan terus begitu padahal ia tahu aku sedang main dengan temannya tapi tidak juga dilepasnya tanganku. Genggamannya lembut dan penuh sayang. Genggaman yang memang diniati dan ia nikmati. Terasa sekali, itu bukan genggaman tangan seorang anak kecil pada gurunya. Ia tidak sadar kalau aku dan Ms Iin memperhatikannya diam-diam, kami berdua hanya tersenyum geli. Kurang lebih 5 menit lamanya dia memegang tanganku sampai bisa kurasakan tangannya berkeringat, tidak juga dilepas. Sampai kudengar Ms Vero berteriak, “Marlon pegang-pegang tangan miss Kezia ya. Hayo..”. Marlon langsung membuang tanganku dan berlari. Ms Vero menghampirinya dan berkata, “nggak apa-apa. Klo Marlon mau pegang tangannya miss Kezia, pegang aja. itu kan missnya Marlon juga.” Aku bisa melihat wajah Marlon yang berubah merah dari tempatku. Aku juga mendengar ia berkata, “nggak kok. Dia jelek kaya kodok. Ngook..ngook.”, wajahnya yang putih makin memerah. Aku dan Ms Iin tertawa mendengarnya.
Sebelum pulang aku memanggil Marlon. Kami masih punya sisa waktu beberapa menit sebelum jam sekolah selesai. Ia datang menghampiriku dan duduk disampingku. Lagi-lagi ia menggenggam tanganku seperti yang ia lakukan tadi, kali ini ia kelihatan lebih nyaman. Aku berkata, “hey, miss vero said you want to come to my house.”
“is it far?” dia bertanya. Jari-jarinya masih asik bermain ditanganku.
“no, its not too far from your house. you can come if u want.”
“do you have cars in your house?”. Ia bertanya, kali ini ia mendongakkan kepalanya, melihatku penuh minat.
“yes, I have cars. I have toys in my house.” Aku menjelaskan. “ You can play cars with Noah.”
“why?” Marlon melempar pertanyaan khasnya.
“because Noah also likes cars, just like you.”
“ya, but why?” ia kembali menekankan pertanyaannya. Ia merasa aku belum menjawabnya dengan benar.
“what do you mean ‘why?’”
“why I have to play with Noah? Why can’t I play just with you?”. Pertanyaan ini dia maksudkan dengan sungguh-sungguh, aku bisa melihatnya dari gerakan badannya yang memutar menghadapku seperti menuntut sesuatu. Kemudian aku tersenyum geli.
Melihat matanya yang masih menatapku, aku menjawab, “of course you can play with me too.” Sambil mengusap-usapkan tanganku yang bebas ke rambutnya.
“why Noah have cars in your house? Why he play in your house?” ia bertanya lagi.
“because he live there. Its his house too and I buy toys for him. Just like your mami buy toys for you.”
“why u buy toys for Noah? Why he live there?” wajahnya kelihatan kebingungan waktu bertanya.
“then I buy for who? Of course I buy him toys because I’m Noah’s mami.” Aku masih berusaha menjelaskan.
“ya, but why you are Noah’s mami?” kali ini wajahnya makin bingung. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menaruh telunjukknya dijidat, bergaya mikir sesuatu.
O my God. Ini bisa jadi panjang lebar. Aku memutuskan untuk menghentikan perbincangan ini. sudah jam 12, waktunya anak-anak pulang. Aku hanya berkata pada Marlon, “hey, why don’t you tell your friends to tidy up and then we go home.”. Marlon tidak kelihatan keberatan aku tidak meneruskan perbincangan kami. Ia hanya melihat melakukan quick screening pada sekelilingnya tapi tangannya tetap memegang tanganku. Menyadari ia belum melepas tangannya, aku yang melepas genggamannya lebih dulu dan merangkulnya dari samping. Kucium ujung kepalanya dan berkata, “I love you too, big Marlon”. Kemudian ia berdiri dan menghambur kekerumunan teman-temannya yang masih bermain.
Sepulang  sekolah aku mengawasi anak-anak yang bermain dari kejauhan. Beberapa dari mereka sedang disuapi makan siang dan beberapa hanya bermain-main sambil menunggu jemputan datang, memang ada beberapa yang tidak makan siang disekolah, salah satunya Marlon. Ia dibekali makanan kecil ditasnya dan kebiasaannya adalah minum susu selagi dalam perjalanan pulang ke rumah dan ia akan makan siang dirumah mengingat jarak dari sekolah dan rumah yang tidak jauh. Setiap hari salah satu dari kami, guru-guru, mengecek makan siang anak-anak yang tidak ditunggui nannynya. Nanny Marlon sudah tidak mengantar kesekolah lagi sejak Marlon berumur 4 tahun, nannynya ganti mengurus adiknya yang belum sekolah. Hari ini, karena masih merasa intens berdekatan dengan anak itu, alih-alih ms Vero, aku ganti mengecek makan siangnya. Aku lihat dia membawa stick coklat, Sticko, dikotak makanannya. “hey, do you want something to eat?” aku bertanya sambil menyodorkan kotak makanannya. “what do I have, miss?” katanya. lalu ia melihat isinya dan mengambil kotak makanan dari tanganku. Aku bersiap pergi dari locker tasnya, kemudian dia memanggilku, “miss, do you want my chocolate?” ia  menyodorkan kotak makanan sambil menggigit sebatang coklat dengan gigi depannya yang ompong. Aku terkejut setengah mati mendengarnya. Beberapa saat kemudian aku tertawa dan menjawab, “really?  you want to give me?” Marlon masih menyodorkan kotak makannya dan mengangguk penuh semangat. “enak loh.” Katanya. “Ooh, thank u, Marlon.” aku mengambil sebatang kecil stik coklat kemudian pergi.
Bukan rahasia umum lagi tentang salah satu sifat Marlon. Pelit. Dia tidak pernah membagi apapun yang ia miliki. Tidak pernah membagai makanan pada temannya, salah satunya. ia hanya berbagi makanan dengan adiknya dan untuk disekolah, ia hanya mau berbagi dengan ms Vero. Itu juga harus ditanya dulu, “Marlon, can I have some?” dan jawabannya bisa ya dan bisa tidak, suka-suka dia. Tidak pernah dia menawarkan berbagi makanan dengan sukarela. Aku kembali ke locker guru tempat teman-temanku sedang duduk makan siang. Stick coklat kecil itu masih ditanganku, belum kumakan. Aku duduk disamping ms. Farin. Diam sebentar lalu berkata, “miss, gue dikasih coklat sama Marlon.”. lalu yang lain menoleh. “gue nggak minta, dia yang nawarin, bow” lanjutku.
“wow !! hebat.” Kata ms Iin terheran-heran “ck ck ck. Hebat Marlon bisa ngasih lo coklat. Gue aja minta gak pernah dikasih.” Yang dibilang Ms Iin itu benar, makanya semua heran. Ms Vero hanya tertawa-tawa. “gile, cinta banget dia. Ha ha ha.” Kata ms Iin lagi. Aku sendiri masih ber-wow hebat ya!-dalam hati selagi mereka memperpanjang cerita.
Jam 1 siang mami Marlon menjemput, seperti biasa. Sudah menjadi kebiasaan untuk kami mengantar anak-anak sampai kedepan pintu, malah kadang sampai masuk pintu mobil jemputan mereka. Hari ini, karena efek euphoria-coklat, aku mengantar anak itu sampai ke pintu depan sekolah. Maminya menenteng tas dan menggiring anaknya keluar sekolah. Seperti biasa, maminya akan berkata, “thank you ya, miss.” Dan aku akan menjawab, “sama-sama”. Kemudian ditengah anaknya yang meloncat-loncat ia akan berkata, “ayo Marlon, bye-bye sama miss dulu.”, dan si anak biasanya akan melambaikan tangan sekenanya kemudian berlari sampai mobil diikuti maminya yang berjalan cepat-cepat mengejar anaknya. Tapi lain yang terjadi hari ini.
“bye-bye, miss.” Kata Marlon. Ia melambaikan tangannya dan berjalan. Kemudian ia berhenti ditengah jalan, menoleh kebelakang, melambaikan tangan, “bye-bye miss.” Lalu berjalan lagi. Berhenti lagi, melambaikan tangan lagi, berteriak “bye-bye, miss.” Begitu terus sampai dipintu mobil, masih disempatkannya berdiri dipintu, menoleh kebelakang dan melambai. Ia masuk ke dalam mobil, kulihat kaca jendela terbuka, wajahnya yang berseri-seri, semu merah dipipi yang terpantul dari sinar matahari itu terbingkai dijendela. Ia melambaikan tangan kuat-kuat. Aku berdiri ditengah playground dan teriknya matahari. Kulambaikan tanganku sebagai balasan.
Terkadang kita tidak perlu susah-susah mencari cara mengobati luka hati. Karena terkadang obat itu tenyata sudah diberikan kepadamu dengan cara yang tidak biasa. Dan obatku, tenyata ada ditangan anak kecil berumur 4 tahun dengan giginya yang ompong.
Fase jatuh-cinta Marlon berlanjut dibulan-bulan berikutnya. Ia bahkan sempat membuat jengkel ms Vero dengang fasenya itu. Marlon sempat ngambek ingin ikut belajar dikelasku, bukan dikelasnya sendiri. Ia juga banyak berulah kalau aku ikut bergabung dikelasnya atau kalau aku sedang menggantikan ms Vero mengajar dikelasnya. Kadang-kadang dia menjadi agak manja dan banyak mencari perhatian. Tapi itu kemudian menjadi hal yang biasa buat kami. Teman-temanku tahu usahanya mencari perhatian. kedekatan kami makin lama makin wajar. Ia tidak lagi berusaha sekeras dulu untuk mencari perhatian. Menurutku, terkadang aku juga sedikit memanjakannya karena sering menuruti kemauannya. Aku berusaha mensejajarkan diri dengan guru-guru yang lain, mengajarnya seperti murid-murid yang lain dan semua berjalan baik. Dan yang lebih baik lagi, kedekatan Marlon denganku mulai terbagi dengan guru-guru yang lain. setelah hampir dua tahun dia bersekolah disini, ia bisa juga mendekatkan diri pada mereka. Kalau dulu, dia hanya akan mengadu pada ms Vero, sekarang ia akan memanggil siapapun miss yang dilihat berada didekatnya.
Kemajuan Marlon dalam berbahasa dan menulis sangat banyak. Tulisannya sudah tidak naik turun. Ia sudah bisa menggunting dan memegang sendiri kertasnya. Dan yang paling menonjol adalah kemampuan matematikanya. Ia memang lebih unggul dalam kecerdasan logic dan analisis dasar matematika, seperti menambah angka dan mendeduksi sebuah masalah yang sederhana. Diusianya yang ke 5, ia sudah bisa membaca tiga huruf dalam bahasa inggris, seperti car atau dog. walaupun ia tetap bukan anak yang lancar dalam main sepeda roda tiga atau balok keseimbangan.
Yang lebih mengherankan lagi, sekarang ia mau disuapi siapa saja waktu makan siang, dalam hal ini kami guru-gurunya. Dulu ia hanya mau disuapi ms Vero. Kadang-kadang ia suka memperhatikan kami makan siang. Sengaja duduk disebelah kami untuk melihat menu makan siang kami. Marlon suka ayam goreng dan telur. Kalau kebetulan kami makan siang dengan menu ayam goreng atau telur dadar, ia suka menunjukkan muka kepingin minta. Kadang-kadang kami memberinya makan siang kami sebagian. Dan hebatnya, dia mau. Dulu dia tidak mau berbagi apa saja yang berhubungan dengan menyentuh mulut. Pernah sekali waktu ia menyodorkan keripik yang sudah ia gigit sedikit padaku. “miss, mau nggak?” katanya setengah meledek. Aku mengambil keripik itu dan memakannya dengan cuek. Lalu ia memperhatikanku, “miss koq nggak jijik? Itu kan bekas mulutnya Marlon. Udah kena ludahnya Marlon.” Sedemikian hati-hatinya dia dengan bagian mulut. Banyak hal lain yang menurutnya menjijikkan, seperti muntahan, air kencing, sedikit kotoran di toilet karena tidak disikat dan air liur. Ia tidak akan segan-segan menunjukkan kejijikannya pada hal-hal seperti itu. ia akan berteriak, “hueek.” atau “eiuhh.” Jika melihat temannya muntah atau kencing dicelana. Dia juga bukan anak yang suka dicium. Dia akan langsung mengelap pipinya kalau ada yang habis menyium pipinya. Sekarang masih begitu, kadang-kadang, tapi dia tidak banyak menolak ciuman-ciuman kami dipipinya yang merah muda. Setelah dua tahun, ia mau makan dari kotak makan gurunya tanpa jijik, dengan sendok sendiri tentunya. Entah karena ia benar-benar lapar atau memang dia sudah begitu dekat dengan kami. Alasan apapun cukup buat kami menyayanginya.
Dia anak yang lembut. Selama hampir dua tahun aku bersamanya, tidak pernah kulihat dia berbuat kekerasan yang disengaja pada temannya. Dia tidak pernah menyakiti siapapun. Kalau mainannya direbut, ia hanya akan mengadu sambil berteriak “hey!!” atau segera memanggil gurunya. Kalau dia sedih, dia tidak akan menangis. Dia akan menahan air matanya sampai wajahnya merah padam. Waktu ia menahan air mata, bisa kulihat badannya tegang, bibirnya tertutup rapat tapi giginya bergetar dan ia akan mengepalkan kedua tangannya sambil menunduk. Sering aku lihat, ia menahan air mata sampai maminya datang menjemput, ia akan menangis dipelukan maminya, tapi tidak didepan orang lain. Kalau dia berbuat sesuatu yang menyakiti temannya dengan tidak sengaja, ia akan berkata “sorry.” dengan segera. Tapi kalau ia merasa ia mendapat perlakuan yang tidak adil, ia akan bertanya, “why?”, “kenapa dia jahat?” ,“tapi kan bukan Marlon yang mulai, miss.” atau “dia yang nakal, miss.”
Marlon bukan anak yang pendendam. Pernah sekali waktu ia ngambek sejadi-jadinya padaku, sampai-sampai ia harus lari karena menahan diri untuk tidak menangis. Waktu itu aku tidak sengaja menertawakannya sampai membuatnya kaget, sampai-sampai dia sakit hati, aku sendiri tidak sadar kalau tawaku membuatnya marah sampai dia merengut dan lari kearah ms Vero, menjauh dari aku. Ms Vero membujukknya dan menanyakan alasannya. Beberapa saat dia kembali bersama ms Vero dengan wajah yang masih merah. Ms Vero menjelaskan padaku dengan singkat dan pelan lalu ia berkata, “Marlon, kalo marah sama miss nya bilang aja, nggak apa-apa. Jadi miss nya tau Marlon marahnya kenapa.”
Aku menghampiri Marlon perlahan dan bertanya, “Marlon marah sama aku?” ia tidak menjawab. “klo marah sama aku nggak apa-apa. Bilang aja.” Ia masih tidak menjawab, wajahnya yang merah menunduk. “Marlon nggak suka diketawain ya?” aku bertanya lagi. Ia mengangguk samar tapi cukup terlihat ia berusaha menjawab. “Aku minta maaf ya, Marlon. Aku janji deh, nggak ketawain Marlon lagi.” Aku memegang tangan Marlon yang terkepal, beberapa saat kepalannya sedikit melonggar. “we’re friends again, ya.” Kataku kemudian. Aku meninggalkannya bersama ms Vero, tidak beberapa lama Marlon sudah muncul lagi didepanku, ia kembali bermain, bahkan meminta tolong dibuatkan mobil-mobilan dari kertas. Sepulang sekolah, kami sudah main dorong-dorongan sepeda lagi.
Diminggu ketiga, sekitar pertengahan May 2010, aku menjalani hari-hari terakhir semester 2. Kurang dari sebulan lagi anak-anak akan naik kelas. Hari belajar kami sudah hampir selesai. Aku sendiri hanya tinggal mengulang sedikit materi-materi selama satu semester ini. tidak banyak waktu belajar karena kebanyakan waktu diisi dengan latihan Graduation yang akan diadakan bulan juni dihari terakhir sekolah. Biasanya setelah latihan, anak-anak akan bermain selama setengah jam sampai waktu belajar.
Selama tiga hari dalam seminggu ini aku membawa handphoneku disaku celana. Biasanya aku meninggalkan handphone dilaci kelasku selama kegiatan belajar mengajar, tapi tidak selama tiga hari ini. aku tetap pada kebiasaan untuk tidak menerima panggilan masuk, sms atau kegiatan sejenisnya. Selama tiga hari itu aku menggunakan handphone untuk berfoto-foto dengan Marlon, atau mengambil gambar anak itu, apapun kegiatannya ditengah-tengah jam bermain sebanyak-banyaknya. Waktu itu aku hanya merasa aku tidak punya cukup foto bersama dia.
Hari selasa, selesai pelajaran Mandarin, tersisa beberapa menit sebelum pulang sekolah. Aku lagi-lagi berfoto bersama Marlon. Kali ini dia bergaya dinosaurus dan aku bergaya monster. Dulu Marlon bukan anak yang senang difoto bersama seseorang, dia lebih sering kabur kalau diminta foto bersama, dan setiap kami menyuruhnya berfoto, ia akan membuat muka aneh-aneh. muka dinosaurus dengan tangan membentuk cakar dan monster seram adalah pose favoritnya. Tapi hari ini dia mau duduk dipangkuanku dan foto bersamaku. Setelah berfoto, aku masih memeluknya dan dia masih duduk dipangkuanku sambil memainkan selembar kertas coret-coretan bergambar mobil yang dibuatnya. Aku berkata padanya, “Marlon, nanti kalo miss nya Marlon ganti, Marlon harus nurut juga ya.”
“emangnya kenapa?” dia bertanya, ia masih memainkan kertasnya yang sekarang sudah ia gulung. “emangnya nanti miss nya Marlon siapa?”
“ya nggak tau, kan nanti miss nya Marlon pasti ganti donk. Kan Marlon naik kelas.” Kataku
“nggak, kata mami, Marlon naik SD nya bukan sekarang. Masih lama.”
“ya, I know.  But you’re getting bigger and bigger so you will have new miss.”
“big kayak papi ya?”
“iya.” jawabku menanggapi pertanyaan polos ala anak-anak. “ Janji ya sama aku, Marlon nggak boleh nakal sama miss barunya.”
Dia tidak menjawab.
Aku melingkarkan tanganku memeluk Marlon. Badannya sudah berat sekali, perutnya sedikit buncit. Dulu aku dengan mudah bisa mengangkatnya, sekarang ia sudah tinggi besar. Baju seragamnya juga sudah sempit. Gigi depannya yang keropos sudah lepas, ia akan punya gigi dewasa tidak lama lagi. Model rambut anak itu masih sama seperti pertama aku menjumpainya. Masih setengah jabrik. Aku menggenggam tangannya yang memegang gulungan kertas beberapa saat  sebelum ia berlari menghampiri temannya. Hari itu aku tidak tahu kalau itu terakhir kalinya dia duduk dipangkuanku, foto dinosaurus dan monster akan jadi foto terakhirku dengannya dan aku tidak tahu kalau aku akan menjabat tangan Marlon Lee untuk yang terakhir kalinya.


Kezia Mamoto
ps. I miss you, my big Marlon..

L.V. Beethoven vs....kita??

udah lebih dari 6 jam terakhir ini gue ngutak-ngutik blog baru gue. dan gue nggak bisa berhenti memikirkan satu hal yang dari tadi nggak jadi gue posting. yang adalah salah satu surat cintanya L.V. Beethoven buat alm istrinya.
dulu gue pernah baca kumpulan suratnya dan hampir nggak ada yang ngangkut diotak gue, kadar kapasitas bahasa inggris gue pas-pasan. bahasa yang dipakai Beethoven emang setara Shakespeare dijaman romeo and juliet, alias ribet. sementara bahasa inggris gue sangat sing-lish, singapore-english. yang bisanya cuma no-no, can-can (maksudnya, bisa..bisa..), i know lah, dsb. anyway, dari semua kumpulan surat itu, satu yang nyangkut dikepala gue, *akhirnya!!... ini isi suratnya..

to the immortal beloved...
good morning,
though still in bed my thougth go to you, my immortal beloved,
now and then joyfully, then sadly, waiting to learn wheter or not fate will hear us. i can live wholly with you or not at all- yes,i am resolve to wander so long away from you until i can fly to your arms and say that i am really at home, send my soul enwrapped in you in the land of spirit.- yes, un happily it must be so_ you will be the more resolved since you know my fidelity- yo you, no one can ever possess my heart- none- never...
ever thine, ever mine, ever for each other...

pada jaman itu, ini hanya surat. sama seperti jama sekarang klo kita berusaha nulis surat cinta. "dear pacar, akyu kangen kamu, kamu kangen nggak sama akyu?? ngapel donk, pacar." atau yang lebih dahsyatnya surat itu dilampirkan puisi "hati sudah beku. tangan sudah kaku. lidahpun kelu. semua karena memikirkan kamu.".
tapi kenapa keduanya kedengaran begitu berbeda? surat Beethoven yang dibaca pada masa sekarang terdengar begitu luar biasa romatisnya, seakan-akan waktu baca seperti ada kelopak mawar bertaburan diudara, dan semua orang meng-qoutes surat itu untuk ditujukan pada pacar-pacarnya. sementara surat kedua kedengaran begitu lebay, ala-alaan dan jangankan di-quotes, bacanya aja agak merinding disko (makanya jangan dibaca sambil ajeb-ajeb!!)
dua-duanya sama-sama surat. kita hidup dalam transformasi bahasa yang masih berjalan dari masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. dan pada jaman apapun, dua-duanya punya maksud yang sama. untuk menyatakan cinta dengan media tulisan.
cinta yang dituliskan dengan berbagai bahasa menjadi cinta yang tertulis, sementara yang menulis mungkin nggak mampu mengucapkan secara lisan, dengan berbagai alasan. intinya, cintanya sama. jadi kalaupun yang satu terdengar romantis dan yang satu terdengar lebay, jangan dipandang sebelah mata. mungkin kita bukan Beethoven sang komposer terkenal, tapi kita punya cinta yang sama seperti cinta yang dimiliki sang komposer. mungkin kita nggak bisa berbahasa sedashyat beliau, tapi maksud kita sama, kita mau orang yang kita cintai mengerti maksud cinta yang kita ungkapkan. nggak usah dibandingkan, nggak usah iri, nggak usah kebanyakan nge-quotes surat cinta jadul hingga surat kita kehilangan jati diri dan menjadi surat cinta yang labil, tidak mengungkapkan siapa diri kita sendiri.
berbahasalah dengan tulisanmu, temans. buat mereka yang kita cintai mengerti bahwa kebesaran makna setiap kata yang kita tulis adalah cinta tertulis yang layak mereka terima.

Kezia Mamoto

Social Sites

Ambil kopi, nyalain rokok.

Hmmm… mau gimana ya ceritanya. Pengen cerita tapi ceritanya terlalu pendek. Waktu yang dijalanin terlalu pendek. mau dipanjang-panjangin juga percuma, soalnya emang bener-bener pendek.

Isep rokok, minum kopi dikit.

Waktu ketemunya juga tiba-tiba, nggak direncanain juga. Simple meeting.

Salah, apus ah. Isep rokok lagi.

Waktu ketemunya tiba-tiba, soalnya tiba-tiba dia ngajak jalan. Simple banget, Cuma makan malem doank. Ditraktir pula. Biasa, ritual ulang tahun kan traktir makan-makan. Ngobrol ngalor ngidul, berlama-lama dimeja restoran sampe diliatin waiters. Abis itu dianter pulang deh. That was the end of the night.

Isep rokok, udah tinggal dikit lagi mati. Minum kopi lagi.

Oo iya, namanya Rangga. Aku kenal dia 5 tahun yg lalu, waktu masih kelas 1 SMA. Dia pindah sekolah ditahun berikutnya. Nggak banyak juga temen-temen yang akrab dengannya karena hanya setahun kami satu sekolah. Tiba-tiba ketemu lagi di facebook. Damn u, social sites!! Saling meng-add temen-temen masa jadul, ketawa-ketawa bareng temen-temen lama, tuker-tukeran nomer handphone, email, chatting. Dunia rasanya maju mundur. Nostalgia sambil tetep ngejalanin hidup yang sekarang dijalanin. Jadi kadang lupa mana yang nyata dan mana yang nggak nyata, berandai-andai. Seandainya dulu begini, seandainya dulu begitu. Bahan pembicaraan yang kadang memunculkan emosi-emosi bermacam-macam. Tapi akhirnya Cuma jadi bahan tertawaan.

Matiin rokok.

Seminggu Cuma sms-sms an, seru, tapi kayanya jadi keseringan. Lupa waktu, lupa tempat. Yang penting seru. Minggu depannya dia ngajak jalan lagi. Kali ini nonton ke bioskop. Masih seru juga, padahal Cuma dua kali pergi bareng tapi kayanya udah sering. Biasa lah, efek keseringan telpon, chatting dan sms. Yang jauh jadi deket. Kali ini aku dapat bonus waktu dianter pulang. Kiss good night on the cheek. So sweet! That night I had butterflies in my stomach.

Ganti kertas. Minum kopi sampai habis.

Gini katanya, “maaf ya, gw gak bisa jemput lo di kampus hari ini.”. Rangga beralasan. Aku manyun sendirian. Selama 3 minggu aku mendengar alasan yang itu-itu juga. Aku sudah tahu alasannya tapi tetep aja bikin kesel dengernya. Harus tetep sok cool waktu menjawab, “ooh iya, gak apa-apa kok. Ntar gw pulang sama temen kok.”  Padahal akhirnya aku pulang sendiri naik bis, panas-panasan, berdiri pula. Hhhh….

Muter-muter pensil di pipi, duuh.. sakit ya, tajam pensilnya. Usap-usap pipi.

Party all night long. Clubbing sama temen-temen kampus. Kata anak-anak boleh bawa cowok, biar gak garing di dalem. Hmm.. kesempatan buat ngajak Rangga jalan. Dia langsung meluncur begitu bisa kabur dari rumah. Malam itu ternyata nggak terlalu panjang, kita cepet-cepet pergi dari club. Ada penggerebekan dadakan. Tapi anak-anak udah terlajur mabok. Aku sendiri udah menegak setengah pil. Efeknya lumayan, pusing-pusing, nggak nyambung diajak ngomong, nyengir-nyegir nggak jelas. Rangga nggak mungkin bawa aku pulang. Anak-anak pada kabur, bubar begitu aja. Jadilah malam itu kita muter-muter nggak jelas. Aku juga nggak terlalu ingat. Paginya, kepalaku pusing. Begitu buka mata, matahari langsung masuk lewat jendela mobil. Aku terkapar dimobil Rangga. Pakaianku berantakan. Aku nggak pakai BH dan celana dalam. Rangga tidur dikursi belakang, tapi pakaiannya nggak terlalu berantakan. Did we have sex last night? Mau nanya malu, ketauan bego nya, masa nggak inget sama sekali. Oo no!

Nyalain batang rokok kedua.

Pura-pura lupa sama kejadian malam itu, Rangga tetap eksis di facebook, sms, chatting. Tapi udah jarang telpon lagi. Sibuk banget keliatannya. Bikin kesel sih kalo dia beralasan nggak bisa ketemuan. Alasannya itu-itu juga. “gw harus jemput cewe gw, nit.”

Isep rokok.

Curhat sama temen kampus, semua jawabannya sama. “Nita, lo gak boleh marah-marah. Siapa suruh mau jadi selingkuhan.” Jawabannya nggak enak didenger. Ada jawaban yang lebih bijak dikit, “Nita, mending lo udahan aja, daripada lo sakit hati sendiri, lo pasti lama-lama main perasaan juga kan? atau lo suruh dia milih, elo atau cewenya. Gitu, dear.”. bisa habis aku dibantai Rangga kalau ngebahas soal pilihan. Nggak mungkin minta dia milih aku atau cewenya, biarpun katanya cewenya nyebelin tetep aja tuh dia bisa tahan pacaran 5 tahun. Kalo udah tahu nyebelin kenapa bisa selama itu, nggak masuk akal. Dalam hati aku tahu aku Cuma selingan, aku Cuma sedikit hiburan dari kejenuhannya, aku Cuma tempat pelarian waktu pacarnya nggak bisa ngasih solusi. Jangankan nyuruh Rangga milih, untuk nanya status kita berdua aja aku nggak berani. Rangga tetap santai kalau datang ke kampusku, nongkrong sama temen-temenku, nggak malu-malu untuk pegang tanganku sekali-sekali. Dia sudah masuk keduniaku. Dia sudah mengintervesi pola hidupku. Dia sudah memanipulasi pikiranku dengan kata-katanya yang sederhana, “kita jalanin aja, nit. Aku enjoy koq.”.  emosinya tidak bisa ditebak, perasaannya tidak bisa diduga. kenapa harus selalu perempuan yang menunjukkan emosi lebih banyak? Kenapa perempuan harus dikontrol oleh perasaan? kenapa perempuan pada akhirnya jadi mahluk munafik karena nggak bisa menepati janji pada diri sendiri untuk nggak selalu mengikut sertakan perasaan saat menjalani sesuatu? Perempuan bukan mahluk bodoh tetapi diposisikan menjadi korban dan juga menjadi penjahat. Korban dan penjahat atas perasaannya sendiri.

Ganti kertas. Isep rokok lagi.

Rangga datang ke kamar kost ku. Dia habis bertengkar hebat sama pacarnya. Dari hasil pertengkaran itu, katanya dia sudah putus sama pacarnya. Dalam hati aku senang, girang setengah mati. Rangga datang mencariku. Rangga bisa jadi milikku. Rangga nggak akan beralasan lagi. Aku biarkan dia memaki-maki, yang penting bukan aku yang dimaki-maki. Aku biarkan dia marah-marah, yang penting bukan aku yang dimarahi. Aku dengarkan sambil lalu ocehannya. Pikiranku melayang-layang, mengkhayalkan apa yang akan aku umumkan pada teman-temanku besok, dengan bangga aku akan ceritakan, “Guys, finally! Dia putus juga sama cewenya! Ha! Liat kan, gw bisa juga jadi sama Rangga!”. Itu akan jadi kalimat balasan buat semua nasehat-nasehat menyebalkan dari teman-temanku. Mereka nggak akan meledek aku lagi karena status selingkuhan sudah tidak berlaku lagi. Mereka tidak akan lagi merasa simpati karena aku selalu cerita tentang Rangga yang suka membatalkan janji denganku. Yang paling penting, mereka nggak akan lagi pura-pura kasihan padahal dalam hati mereka berkata, “lagian mau aja jadi selingkuhan. Salah sendiri, itu resiko lo, nit!”. Waktu aku asik mengkhayal, ternyata Rangga sudah selesai cerita. Aku sendiri nggak ingat apa isi pertengkaran Rangga dengan pacarnya. Oo salah, sekarang mantan pacar. Ha! Selesai cerita mood nya langsung berubah. Dia menciumku. Aku sih senang-senang aja. Dia jadi bersemangat. Aku juga nggak nolak. Yah yang terjadi biarlah terjadi. Mari kita buat malam ini indah, sayang.

Matiin rokok. Ambil permen. Nggak ada yang rasa strawberry, ya udah, rasa apel aja deh.

“Lo pikir gw apaan, ngga? Tempat pelarian lo?” aku marah-marah sama Rangga. Rangganya diem aja. Keliatannya gak terlalu mau repot dengan kekesalanku. “lo nggak bisa gitu aja dateng ke tempat gw, tiga hari yang lalu lo bilang lo udah putus sama cewe lo, terus lo bujuk-bujuk gw buat nyeneng-nyenengin nafsu lo. Terus sekarang apa?”. Pertanyaanku yang terakhir aku tahu itu adalah pertanyaan yang paling dihindari Rangga. Dia bilang maaf padaku. Maaf kalau dia ternyata dia menyakiti aku. Maaf karena dia nggak bisa ngasih apa-apa buat aku. Maaf karena dia akhirnya balik lagi sama pacarnya. Nggak menjawab pertanyaan dan nggak menyelesaikan apa-apa. Cuma nambah-nambahin sakit hati. Tapi pelukannya yang menenangkanku seolah-olah menutup pembicaraan. That’s it. Bagaimana soal besok? Ternyata telponku masih berdering, sms-sms dari Rangga masih masuk ke inbox. Isinya sama saja seperti hari-hari kemarin.

Ambil air putih. Minum segelas air putih sampai habis.

Melamun sambil liat-liat kalender dimeja belajar. Tujuh bulan yang lalu Rangga masuk ke kehidupanku. Mengacak-acak yang ada didalamnya. Memutar balikkan perasaanku. Dia yang membuatku merasa senang, dia juga yang merusak kesenanganku. Dia alasan aku tertawa, dia juga alasan aku marah-marah. Dia yang membuat hatiku berdebar-debar, dia juga yang menghentikan debaran itu. Sudah dua bulan telponku berhenti berdering. Sms-sms dari Rangga nggak pernah datang lagi. Dia tidak kelihatan banyak aktifitas di dunia maya. Bukannya aku menguntit setiap kegiatannya. Tapi aku nggak tenang. Tidak bisa dibiarkan begitu saja dengan perasaan nggak karuan. Nggak bisa tidur karena mikirin sms yang nggak dibalas, telpon yang nggak diangkat. Tidak bisa terima kenyataan kalau Rangga tiba-tiba saja menghilang. Mau cari kemana? Dia membatasi aku masuk kedunianya. Aku nggak pernah bisa menembus ruang geraknya. Harus kuakui, dia pintar, dia bisa menyimpan hubungan kami dengan sangat rapi. Terus-terusan aku bertanya-tanya, apa ada yang salah? Mungkin dia sekarang beralih ke perempuan lain? Mungkin juga dia bosan? Mungkin juga dia tiba-tiba sadar bahwa hubunganku dengannya tidak berarti? Semua Cuma kemungkinan-kemungkinan. Nggak ada yang bisa jawab selain Rangga, karena faktanya ada ditangan dia. Aku dibiarkan mengira-ngira sendiri. Nggak pernah ada tanda-tanda dia mau mengakhiri hubungan kami. Nggak pernah juga ada cerita soal ketahuan selingkuh dari pacarnya. Bener-bener langsung hilang. Clueless. Aku nggak siap kehilangan. Shock juga ditinggal dengan tiba-tiba. Kesal, marah, bingung, kangen. Perasaan-perasaan itu harus aku telan bulat-bulat. Mau cerita sama temen-temen, gak bisa, aku malu. Malu karena sampai terakhir aku nggak bisa memproklamirkan kemenangan. Aku sama sekali nggak pernah menang malahan. Kepingin sekali aku mengumpat-umpat, memaki-maki Rangga sampai puas didepan mukanya. Sialan! Cowo brengsek! Dan sebagainya, Tapi kata-kata itu nggak bisa keluar, karena kenyataannya dia ayah dari anakku.

Naruh pensil dimeja. Pegang-pegang perut. Nangis.


Kezia Mamoto

gue nggak ngerti kenapa kakak gue suka sama cerita ini... hmmm.. sepertinya dia berahasia sama gue.. *mikir