Saturday, October 9, 2010
Angka juga menyatakan sesuatu. Contohnya, mikrolet nomer 37 itu jurusan kampung rambutan-bojong gede, bulan juni tanggal 27 tahun 2010 itu hari minggu, atau nilai raport dibawah angka 5 itu ditulis dengan pulpen warna merah. Jadi angka yang ada disekeliling semesta tempat hidup manusia ini, mengambil bagian sendiri dalam hidup manusia.
Sebuah angka menjadi bermakna hanya jika manusia memutuskan untuk memaknainya menjadi sesuatu. Angka hanya sebuah symbol yang absolute jika dibiarkan, tapi tidak jika dimaknai. Semesta membiarkan angka apa adanya, yaitu untuk menyatakan sesuatu, manusia yang memutuskan untuk menghayati lebih dari itu. Manusia memutuskan untuk memaknai dan menghayati sebuah angka untuk berputar dalam satu kehidupan dan menciptakan sebuah drama. Drama dimana angka menjadi bagian penting dan manusia pelakonnya. Dengan berbagai cara angka menjadi bermakna, dengan berbagai cara angka menjadi alasan dan dengan berbagai pola angka bisa ditempatkan dimana-mana, membuat drama tetap hidup.
Persis seperti yang terjadi pada hari ini, yang jatuh pada tanggal 10-10-10. Didunia infotainment sibuk memberitakan rencana perkawinan Indra Bekti yang akan diadakan pada hari ini. Dia hanya salah satu dari sekian banyak orang yang memilih untuk menikah ditanggal yang hanya ada sekali dalam putaran semesta. Gue nggak kenal Indra Bekti, jadi gue nggak akan cerita tentang dia. Yang gue ceritain ini adalah salah satu teman gue yang sealiran dengan Indra Bekti dalam hal memilih tanggal perkawinan, tanggal 10-10-10. Dua tahun yang lalu teman gue ini sebenernya udah berencana menikah, beberapa kali dia menyebutkan pada tanggal berapakah dia akan menikah. Yang gue inget dia pernah nyebut tiga tanggal, 09-09-09, 08-09-10 dan 10-10-10. Dan yang kesampaian adalah yang terakhir kali dia sebut. Yup, dia bakal nikah hari ini, tanggal 10-10-10.
Banyak orang yang sibuk menentukan tanggal perkawinan dan menghayatinya sebagai hari baik. Sayang, semua hari baik adanya. Semua tanggal sama. Kalau ditanya, apa istimewanya tanggal itu? Secara estetika, komposisi angka yang berulang tiga kali itu kelihatan indah dipandang. Ditambah efek dramatis, tanggal itu dipilih untuk memaknai sebuah hari perkawinan, hari yang diyakini hanya terjadi sekali seumur hidup. Efek dramatis itu akan terulang berkali-kali ketika memori mereka memutar ulang penghayatan akan angka-angka itu. Ada satu kebanggaan dan kesenangan pribadi ketika menyebut tanggal itu.
Sayang, angka-angka itu nggak akan berarti ketika kamu melangkah masuk dalam kehidupan pernikahan yang sebenarnya. Ketika kamu berhadapan dengan benturan ego dengan pasanganmu, akankah kamu masih mengingat angka-angka itu? Beberapa tradisi kuno justru menyakini kebahagiaan pernikahan ditentukan oleh konsep hari baik. Mungkin lebih mudah menyalahkan hari dan tanggal daripada benturan ego dan karakter yang buruk ketika pernikahannya berantakan.
Ada lagi cerita tentang seorang temen yang masih berpacaran. Mereka menandai tanggal dikalender sebagai hari jadi. Mereka memaknai tanggal itu sebagai tanggal bersatunya cinta mereka. Kemudian kalender itu menjadi penuh dengan coret-coretan yang isinya, tanggal sekian aku pertama kali pergi berdua ke restoran itu, tanggal sekian aku dicium pertama kali di taman itu, tanggal sekian aku berantem gila-gilaan, tanggal sekian aku putus sama dia dirumahnya si anu. Begitu putus si wanita mulai menangis melihat coret-coretan dikalendernya. Sibuk mengenang tanggal-tanggal yang mengandung kenangan tertentu. Perasaannya jadi berubah-ubah ketika bangun pagi menyadari bahwa hari ini adalah tanggal yang sama dengan tanggal pertama kali mereka pacaran.
Nggak jauh beda halnya yang terjadi pada si laki-laki. Pernah dia sengaja memutar mobil, mencari jalan lain, mengubah arah perjalanan hari itu hanya untuk tidak melewati tenpat tertentu ditanggal yang mengandung kenangan indah yang sudah berlalu itu. Menghubung-hubungkan tanggal yang satu dengan tanggal yang lain untuk alasan melankolis. Jadilah tanggal-tanggal itu digunakan sebagai alasan berubah-ubahnya mood, emosi, ekspresi bahkan irama kehidupan dalam satu hari.
Ini cuma pendapat gue loh. Hmm.. buat temen gue yang menikah hari ini, gue ucapin selamat menempuh hidup baru dan semoga bahagia. As life goes on, one life come to an end and another has just begun. So happy for you, guys.
Regards,
Kezia Mamoto
Friday, October 8, 2010
Beberapa temen gue sempat terkena shock ringan waktu tahu gue kerja disekolahan. Mereka pikir gue masuk dibagian HRD atau guru BP yang galak atau mangkal jualan buku. Salah cuy! Gue ngajar, dan yang gue ajarin itu anak-anak yang usianya dibawah 5 tahun. Bocah semua. Masih pipis dicelana, ee sembarangan, baru belajar ngomong, jalannya masih sempoyongan dan yang ingusnya masih menggantung-gantung dihidung. Kemudian mereka bertanya sama gue, apa enaknya kerja disekolahan? Dengan bijak gue jabarkan satu persatu.
Pertama, gue nggak harus kesiksa sama yang namanya sepatu. Jadi gue nggak perlu repot mikir perpaduan baju, sepatu dan tas yang senada. Kaki ini nggak perlu tersiksa sama high-heels , boots dan stiletto. Setiap hari gue nyeker atau cuma pake kaos kaki doank. Kemerdekaan kaki adalah hal yang mutlak!
Kedua, gue nggak harus repot ngatur posisi duduk. Bayangin cewek-cewek yang pake rok mini kekantor. Setiap kali duduk otaknya harus alert, konsentrasi penuh mempertahankan sikap duduk anggun yang bikin kaki kesemutan atau duduk sembarangan dengan resiko diintipin. Sangat rempong. Gue setiap hari pake celana. Gue bebas duduk ngangkang, angkat-angkat kaki dan yang lebih sembarangan adalah gue suka berguling-guling. Satu-satunya yang harus gue perhatikan cuma bolong atau nggaknya celana gue. Sangat simple.
Ketiga, karena gue sering menemukan percakapan semacam ini...
- Disuatu siang seorang anak yang belum dijemput mamanya mendatangi gue dan temen-temen gue yang lagi istirahat siang. Dengan wajah serius dia berkata,
Anak itu : miss, I think I’m a superhero.Kita : why?Anak itu : because I help Bella open her water bottle. Bella can’t do it but I can. It hard but I can do it.Kita : so?Anak itu : I think I’m strong.
- Masih tentang anak yang sama... Dikelas lampu tiba-tiba mati. Kemudian dia mengungkapkan analisisnya...
Anak itu : miss, I think I know what happen with the lamp.
Kita : what?
Anak itu : because we have a lot of cable and so the electricity is so heavy.
- Salah seorang rekan guru kita menghabiskan satu bulan mati-matian ngelatih anak kelasnya untuk tampil didepan orang tua murid. Dia mendikte kalimat yang harus dihafalkan dan diucapkan anak-anak itu. Ada seorang anak yang masih cadel ngomongnya dan dia harus mengucapkan kalimat ini : Fireman uses boots to protect his leg. Dan pada hari H dengan lantangnya anak itu berkata,
"Fireman uses boobs to protect his whacks!"
Orang tua muridpun tertegun dan kita hanya bisa pura-pura nggak denger.
- Kepsek gue adalah seorang wanita bertubuh tinggi besar. Untuk menggambarkannya, bayangin gue bisa main petak umpet dan nggak bakal ketemu kalo ngumpet dibelakang dia. Cukup jelas kan? Nah, pada suatu hari datanglah seorang anak menghadap kepsek gue. Dia bilang begini,
Anak itu : miss, why are you so big?
Kepsek: (sewot, nggak terima) your mom also big!
Anak itu : ya I know, but my mom has a baby in her tummy. But you don't have baby, you only have food inside your tummy.
Kepsek gue pergi marah-marah.
Keempat, kelima dan seterusnya.... ketika gue disekolah, gue selalu teringat bahwa ketika kita masih kecil, hidup ini sangat sederhana dan dunia masih berwarna merah jambu.
“One of the most obvious facts about grown-ups to a child is that they have forgotten what it is like to be a child.” - Randall Jarrell
Regards,
Kezia Mamoto
Kezia Mamoto
Thursday, October 7, 2010
Dikamar Melati ada banyak barang dan berbagai pernak-pernik. Melati senang mengumpulkan boneka, berbagai keramik pajangan, ornamen klasik, kotak musik dan mainan berbentuk figurine manusia. Melati memperlakukan semua benda dikamarnya sebagai temannya hingga ia sangat senang membersihkan dan terkadang mengajak mereka bicara ketika membelai benda-benda itu satu persatu, bahkan kadang Melati suka bernyanyi untuk mereka. Melati selalu melihat teman-temannya dengan penuh rasa puas dan penuh kasih sayang.
Melati tidak menyadari rasa cintanya untuk benda-benda itu membuat kamarnya menjadi sebuah dunia yang nyaman untuk ditinggali. Sebuah dunia yang nyata. Ia tidak menyadari semua benda dikamarnya bernafas seirama dengan nafasnya, berbicara dengan bahasa yang tidak dimengertinya dan ketika ia tertidur, mereka yang berbalik memperhatikannya dalam kegelapan dari cahaya bulan yang menembus sela-sela korden jendela.
Pada hari minggu siang Melati membawa sebuah kotak kecil kekamarnya. Dari wajahnya terlihat bahwa Melati bersemangat sekali ketika membuka kotak kecil itu. Disamping kotak itu terbaca sebuah tulisan dengan tinta merah, Fragile! Handle With Care, yang kemudian diabaikan oleh Melati. Ia terlalu antusias menyambut anggota baru yang akan menghuni kamarnya. Tanpa sepengetahuan Melati, sebagian penghuni kamar yang tidak tertidur ikut mengintip apa yang dilakukan Melati dengan kotak itu. Sesaat kemudian rasa penasaran mereka terjawab. Sebuah kotak musik kayu yang muncul dari kotak kecil itu. Cantik sekali. Melati girang bukan main. Ketika ia membuka kotak musik itu, muncul seorang balerina yang menarikan solo Giselle dengan iringan piano dari Adolphe Adam. Lincah mengelilingi permukaan datar bagai menari diatas panggung pertunjukan. Wajah Melati makin berseri melihat keindahan itu. Bukan hanya Melati yang senang, sebagain penghuni kamarnya ikut senang. Alunan musik membuat kamar Melati makin berseri.
Malam harinya, ketika Melati hendak tidur, ia memutar kotak musik itu untuk menghantarnya kealam mimpi. Melati memutar kenop kotak musik itu sampai akhir dan menaruhnya dipinggir tempat tidur kemudian ia menutup kedua matanya. Lagi-lagi ia tidak tahu, bahwa ketika matanya terpejam, dunia disekelilingnya hidup, menyapa anggota baru yang cantik itu.
...
Balerina menilik bayangannya sendiri pada kaca dibelakangnya. Ia melihat pantulan dirinya dan pasang-pasang mata yang menatapnya dari balik bahunya. Ia menoleh, "hai", sapanya. Sebuah ornamen beruang menyapanya kembali, "hai". Wajahnya bersemu merah. Beberapa temannya melambaikan tangan pada sang Balerina. Sebuah keramik berbentuk burung dara berkata, "kau cantik sekali." Balerina balas melambaikan tangan pada wajah-wajah yang menatapnya. Ia memberi hormat dengan anggun yang dilanjutkan dengan variasi pas de bourrée, pas de valse dan grand jeté.
dari ujung keujung. Mereka tersenyum senang melihat gerakan cantik yang meliuk-liuk dari sang Balerina. Mata sang Balerina menyusuri mereka yang mengaguminya, ia merasa disambut baik didunianya yang baru. Pandangannya terhenti pada sebuah figur ornamen yang terbuat dari keramik disalah satu sudut ruangan, tegap dan mencolok. Figurine yang berwujud laki-laki itu memberi salute sambil membungkuk pada sang Balerina.
waah.. sungguh tampan dan gagahnya laki-laki itu, kata sang Balerina dalam hati. Ia mengamati gerak gerik laki-laki itu sambil terus menari. Maka sejak saat itu sang Balerina menaruh hati pada laki-laki yang dikaguminya sejak pandangan pertama. Sayangnya sang Balerina tidak tahu bahwa laki-laki itu sudah memiliki pasangan, sebuah porselin antik berbentuk wanita bergaun biru.
Si burung dara yang mengetahui cinta sang Balerina memberi tahu perihal laki-laki itu pada sang Balerina. Mendengar kabar itu, sang Balerina sangat sedih. Ia menarikan kesedihannya dalam pirroute berulang-ulang, kemudian ia kembali kedalam kotaknya. Menangis. Malangnya sang Balerina, ia juga tidak menyadari tangisannya membuat satu senar dalam kotak musiknya putus.
Hari demi hari, kabar yang didengarnya makin jelas terlihat. Ketika malam tiba, sang Balerina melihat laki-laki itu bersama wanita pendampingnya bergandengan tangan. Ia kembali menangis dan satu senarnya putus lagi. Beberapa kali sang Balerina melihat laki-laki itu sendirian, ia ingin sekali menyapa dan berbicara dengan laki-laki itu, tapi ia terlalu takut untuk melakukannya dan ketakutannya kembali membuat senarnya putus lagi.
Pada suatu hari ia tidak bisa lagi menahan gejolaknya untuk berbicara dengan laki-laki yang dicintainya secara diam-diam itu. Ia berkata pada si burung dara, "dosakah aku jika hanya ingin menyapa? dosakah aku jika hanya ingin mendengar suaranya memanggil namaku? dosakah aku jika untuk sekali saja tangan ini bisa menjabat tangannya?". Si burung dara menjawab, "perihal dosa itu, aku tidak dapat memberitahumu. cinta yang kau miliki terlalu besar untuk dikatakan sebagai dosa. hanya saja, aku khawatir akan akibatnya." Sang Balerina menimbang jawaban si burung dara kemudian ia memutuskan untuk menghalau segala kekuatirannya dan pergi menyapa laki-laki itu.
"hallo..." katanya malu-malu.
"apa kabar?" balas laki-laki itu ramah, tidak kehilangan pesonanya. Sang Balerina terpana mendengar sapaan hangat laki-laki itu, ia tidak menyadari dirinya terpaku. "ada apa?" tanya laki-laki itu menyela kekosongan.
"aku... hanya ingin menyapamu." kata sang Balerina jujur. "sudah lama aku memperhatikanmu." lanjutnya.
"aku juga beberapa hari ini memperhatikanmu, wahai penari cantik."
Mendengar perkataan laki-laki itu, pipi sang Balerina bersemu merah. Ia senang laki-laki itu juga memperhatikannya. "benarkah?" katanya berusaha meyakinkan.
"musik dan tarianmu berubah, sepertinya ada yang salah." jawab laki-laki itu dengan pandangan menyelidik. "semua itu terdengar dan terlihat jelas dari sini."
"menurutmu, tarianku tidak indah?"
"tidak seindah dulu."
Sang Balerina yang terkejut mendengar perkataan yang tidak disangka-sangka, seketika itu ia lari menjauh. Dalam ketidak tahuannya ia merasa malu dan sedih, terlebih lagi ia merasa marah pada dirinya sendiri. Ia tidak tahu apa yang menyebabkan tarian dan musiknya tidak seirama. Ia melakukan fouettés en tournant sampai kelelahan dan terkulai lemas. Lalu senarnya putus lagi...dan lagi...dan lagi.
Cintanya yang terpendam, kesedihannya, kecemburuan dan penolakan yang diterima sang Balerina tidak membuatnya berhenti menari. Ia terus menggerakkan kaki dan tangannya, selama Melati memutar kenop kotak musik itu, sang Balerina tidak berhenti menari. Tanpa mengikuti irama, sang Balerina terus berputar-putar diatas permukaan datar itu. Matanya masih tertuju pada laki-laki yang dicintainya tapi mata sang lelaki tidak tertuju padanya, melainkan pada pasangannya. Hatinya makin hancur. Ia menari sambil menangis. Sampai suatu ketika saat ia sedang melakukan posisi arabesque, ia melihat laki-laki itu berciuman dengan pasangannya. Senar terakhirpun putus.
...
Dikamar Melati penuh barang. Figurine, boneka, ornamen keramik klasik dan kotak musik. Pada malam hari ketika Melati hendak tidur, ia mengambil kotak musik kayunya. Berharap alunan denting piano Adolphe Adam menghantarnya ke pembaringan. Ternyata harapan Melati tidak terjawab. Dengan kecewa, ia menyimpan kotak musiknya yang sudah tidak bersuara ke lemarinya. Didalam kotak musik itu bersembunyi seorang Balerina yang tidak bergerak lagi dengan arabesque yang tertahan untuk selamanya. Malam itu, hanya lirih kicau si burung dara yang mengisi kesunyian...
after a certain point, a heart with so many stress fracture can never be anything but broken - Jodi Picoult
Kezia Mamoto
Sunday, October 3, 2010
It's October again
Leaves are comin' down
One more year's come and gone
And nothing's changed at all
Wasn't I supposed to be someone
Who can face the things that I've been runnin' from
Let me feel
I don't care if I break down
Let me fall
Even if I hit the ground
And if I
Cry a little
Die a little
At least I know I lived
Just a little
I become much too good
At being invincible
I'm an expert
At play at safe and keep it cool
But I swear
This isn't who I meant to be
I refuse to let my life
Roll all over me
Let me feel
I don't care if I break down
Let me fall
Even if I hit the ground
And if I
Cry a little
Die a little
At least I know I lived
Just a little
I wanna be somebody
I, I wanna be somebody
I wanna be somebody
I, I wanna be Somebody
Who can face the things that I've been runnin' from
Let me feel
I don't care if I break down
Let me fall
Even if I hit the ground
And if I
Cry a little
Die a little
At least I know I lived...
It's October again
Leaves are comin' down
One more year's come and gone
And nothing's changed at at all...
Leaves are comin' down
One more year's come and gone
And nothing's changed at all
Wasn't I supposed to be someone
Who can face the things that I've been runnin' from
Let me feel
I don't care if I break down
Let me fall
Even if I hit the ground
And if I
Cry a little
Die a little
At least I know I lived
Just a little
I become much too good
At being invincible
I'm an expert
At play at safe and keep it cool
But I swear
This isn't who I meant to be
I refuse to let my life
Roll all over me
Let me feel
I don't care if I break down
Let me fall
Even if I hit the ground
And if I
Cry a little
Die a little
At least I know I lived
Just a little
I wanna be somebody
I, I wanna be somebody
I wanna be somebody
I, I wanna be Somebody
Who can face the things that I've been runnin' from
Let me feel
I don't care if I break down
Let me fall
Even if I hit the ground
And if I
Cry a little
Die a little
At least I know I lived...
It's October again
Leaves are comin' down
One more year's come and gone
And nothing's changed at at all...
Saturday, October 2, 2010
Hellow yellow fellow! Finally.... gue nemu juga waktu gue untuk bisa duduk manis didepan laptop ditemenin segelas cappucinno.. dapet beli sachet-an sih, kondisi dompet yang memutuskan begitu. Dompet terkutuk!
Well, it's been a crazy busy week. Menjelang Project Presentation emang waktu-waktunya menggila disekolah. Gila ngerjain dekorasi, gila nyapin slide presentasi, gila ngumpulin kerjaan anak-anak yang berceceran, gila bikin lesson plan, gila ngurusin anak-anak yang stress latian padahal kita sendiri juga hampir muntah, gila ngurusin temen sekerja yang hampir gila, gila dengerin wanti-wanti dari principal yang lagi kena efek samping hamil muda dengan indikasi pikun dan suka menyiksa guru-guru secara auditori, gila karena mental diri sendiri nggak keurus. Yah, inilah kami....percikan kehidupan para guru. Tapi hari ini akhirnya neraka Project Presentation kelar juga. Bye bye term 1..... Next term, here we go, kiddos!
Gue sebagai guru percaya semua anak itu unik dan kita bisa menggambarkan anak-anak ini dengan macem-macem kata yang mencerminkan pribadi mereka. Anak ini pinter, anak itu lincah, anak ini suka ee dicelana, anak itu cerewet, de el el. Gue sendiri punya 10 bocah dikelas, kurang lebih umur dua tahun-an. Ada salah seorang anak murid gue yang masih berumur 1 tahun 10 bulan, namanya Hayden. Dan gue menggambarkan Hayden juga dengan satu kata. Anak ini sangat....rese!
This boy come to school only to eat and to pissed me off. Tiap hari gue harus menaikan volume suara gue satu oktaf setiap kali gue berhadapan sama dia. Hari-hari kami diwarnai dengan teriakan, "HAYDEN!! Listen to your teacher!" kayak ada congek segede gundu yang nyumpel ditelinga anak itu. Anak itu juga masih belum bisa ngomong jelas. Ini contohnya :
Gue : Hayden, sit down, please
Gue : Hayden, sit down, please
Hayden : nggak. jgadadhlakdh...
Gue : Miss Kezia said sit down!
Hayden : (kabur sambil ngedumel) hohfloehlksl
kejadian berikutnya adalah gue berlarian ngejar-ngejar dia. cakep!
Gue : Hayden, color the picture, ok?
Gue : Hayden, color the picture, ok?
Hayden : ....(duduk diam sambil menunduk)
Gue : (penasaran) Hayden, what are you doing?
kejadian berikutnya adalah gue menemukan dia udah tidur pules, ngiler pula. rese!
Keresean dia ternyata berdampak negatif bagi para guru. Ada satu laoshi mandarin kita yang hampir kena mental breakdown gara-gara anak itu. Hayden emang nggak suka pelajaran mandarin. Suatu hari laoshi menunjukan klimaks gejala itu dikelas. Hayden terang-terangan nolak belajar mandarin, sepanjang pelajaran dia sibuk makan, laoshi masih sabar membiarkan Hayden makan. Abis makan dia guling-gulingan dikarpet nggak jelas, laoshi masih sabar mengajak dia gabung sama temen-temennya. Abis itu dia tiba-tiba tidur. Lalu terdengarlah teriakan itu, "HAYDEN, DO YOU WANT TO KILL ME??" Kasian laoshi, dia hampir menangis waktu itu dan sampai hari ini dia masih tertekan dalam penyesalan tiap kali teringat kejadian itu. Sekolah menolak membiayai laoshi pergi ke psikiater.
Keresean dia ternyata berdampak negatif bagi para guru. Ada satu laoshi mandarin kita yang hampir kena mental breakdown gara-gara anak itu. Hayden emang nggak suka pelajaran mandarin. Suatu hari laoshi menunjukan klimaks gejala itu dikelas. Hayden terang-terangan nolak belajar mandarin, sepanjang pelajaran dia sibuk makan, laoshi masih sabar membiarkan Hayden makan. Abis makan dia guling-gulingan dikarpet nggak jelas, laoshi masih sabar mengajak dia gabung sama temen-temennya. Abis itu dia tiba-tiba tidur. Lalu terdengarlah teriakan itu, "HAYDEN, DO YOU WANT TO KILL ME??" Kasian laoshi, dia hampir menangis waktu itu dan sampai hari ini dia masih tertekan dalam penyesalan tiap kali teringat kejadian itu. Sekolah menolak membiayai laoshi pergi ke psikiater.
Anehnya, serese-resenya Hayden, kita nggak bisa marah sama anak itu. Padahal sering kita kena krisis kejatohan wibawa didepan anak-anak karna nggak bisa marah. Ujung-ujungnya kita selalu bilang, "it's ok for you, Hayden." Gue sendiri seneng sama anak itu, kita punya beberapa persamaan.
1. Gue dan Hayden sama-sama suka ngantuk dikelas. Hayden sering banget acting tidur atau malah tidur beneran sampe kepalanya jatoh-jatoh, mirip banget sama boneka yang dijual abang-abang dilampu merah. Kita suka membiarkan soalnya kiyut banget. Kalo gue yang tidur dikelas pasti langsung disadarkan secara brutal sama temen gue. Digebuk-gebuk, ditakut-takutin, "hayo lo, ada principal lo...ntar diomelin lo...disuruh lembur lo...nggak boleh pulang lo...malem-malem disekolah ada setan lo..."
2. Gue dan Hayden sama-sama suka makan oreo. Biskuit hitam itu suka meninggalkan jejak dimulut. Buat anak-anak sih lucu-lucu aja mulutnya belepotan. Kalo gue yang makan oreo trus lupa ngelap mulut pasti akan terlihat menjijikan.
3. Gue dan Hayden suka berlama-lama dikamar mandi. Hayden sering nolak untuk dibantu pipis, maunya pipis sendiri. Tapi ujung-ujungnya air keran dimainin, tissu dimainin, pancuran dimainin, pipisnya sendiri dimainin. Lama. Kalo gue lama-lama dikamar mandi, duduk dikloset menikmati proses pipis yang semestinya pasti nggak lama terdengar gedoran dipintu kamar mandi, "wooi...cepetan!"
Seakan-akan ada satu pengertian dalam kepala gue, it's ok for them to do all those things, but for us, it's just plain annoying.
See you on Monday, boy!
Kezia Mamoto
Subscribe to:
Posts (Atom)

